🍞 Roti: Simbol Status dan Kemewahan di Meja Makan Zaman Dahulu
Roti, yang kini menjadi makanan sehari-hari bagi banyak orang di seluruh dunia, dulunya memiliki kisah yang jauh berbeda. Jauh sebelum era produksi massal, sepotong roti yang sempurna, terutama yang berwarna putih, adalah simbol kemewahan, status sosial, dan kekuasaan. Perjalanannya dari adonan sederhana hingga menjadi hidangan istimewa mencerminkan sejarah peradaban dan ketidaksetaraan sosial.
🥇 Roti Putih: Mahkota Para Bangsawan
Di banyak peradaban kuno, khususnya di Eropa selama periode Abad Pertengahan, perbedaan antara roti yang dikonsumsi kaum elit dan rakyat jelata sangat mencolok.
Bangsawan dan Kaum Kaya Mereka mengonsumsi roti putih yang terbuat dari tepung gandum murni yang digiling halus. Proses penggilingan gandum menjadi tepung putih memerlukan lebih banyak waktu, tenaga kerja, dan teknologi penyaringan yang canggih untuk menghilangkan semua kulit ari (bekatul) dan kuman. Oleh karena itu, roti putih adalah produk yang mahal dan langka, melambangkan kemurnian, kemakmuran, dan kemampuan untuk membeli biji-bijian terbaik.
Rakyat Jelata dan Kelas Pekerja Sebaliknya, masyarakat umum mengandalkan roti berwarna gelap yang terbuat dari tepung yang lebih kasar, sering kali campuran jelai (barley), gandum hitam (rye), atau bahkan oat. Roti ini lebih padat, lebih bergizi (karena mengandung seluruh biji-bijian), dan yang terpenting, jauh lebih murah dan mudah dibuat. Roti kasar ini menjadi makanan pokok yang memberikan energi untuk pekerjaan sehari-hari.
🔬 Inovasi Mesir Kuno dan Status Roti Beragi
Perjalanan roti sebagai makanan mewah dimulai sejak peradaban kuno. Sekitar 4.000 tahun yang lalu, orang Mesir Kuno secara tidak sengaja menemukan proses fermentasi atau penggunaan ragi, yang menghasilkan roti yang mengembang, ringan, dan lebih lembut.
Penemuan ini menjadi terobosan besar:
Roti tidak lagi hanya berupa roti pipih yang keras (flatbread) melainkan berubah menjadi hidangan yang lebih lezat dan lembut.
Kemampuan untuk membuat roti beragi yang mengembang, khususnya yang terbuat dari gandum, adalah keahlian yang dihargai dan menandakan kemajuan teknologi kuliner. Roti jenis ini segera dikaitkan dengan perayaan, ritual, dan hidangan istana.
Di Romawi Kuno, pembuat roti (baker) bahkan menjadi profesi yang sangat dihormati. Toko roti profesional yang memiliki oven komunal besar mulai bermunculan, menunjukkan bahwa pembuatan roti telah menjadi industri yang penting, dengan kualitas roti yang berbeda-beda mencerminkan kelas konsumennya.
👑 Kasus di Nusantara: Kemewahan Roti Khas Kerajaan
Di Indonesia, khususnya pada era kerajaan-kerajaan Islam seperti Mataram Islam, roti juga menjadi simbol kemewahan dan sajian istimewa dalam acara-acara kerajaan. Salah satu contohnya adalah Roti Kembang Waru.
Roti ini dahulu dibuat dengan bahan-bahan premium pada masanya, menggunakan telur kampung dan tepung ketan yang lebih mahal, serta pewangi alami seperti daun pandan.
Kualitasnya yang empuk, wangi, dan manis menjadikannya hidangan khusus yang disajikan hanya untuk acara-acara penting di lingkungan kerajaan, menggarisbawahi statusnya sebagai kuliner mewah dan eksklusif.
🕰️ Kesimpulan
Roti di zaman dahulu adalah narasi visual dari status sosial. Roti putih yang halus di atas meja bangsawan adalah pengingat harian akan kekuasaan dan kekayaan mereka, kontras dengan roti gelap dan kasar yang menjadi penopang hidup rakyat jelata. Barulah setelah Revolusi Industri dan kemajuan teknologi penggilingan dan produksi massal, roti—terutama roti gandum putih—menjadi mudah diakses dan kehilangan status kemewahannya, beralih menjadi makanan pokok yang dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar